TUGAS MANDIRI
Sebagai
salah satu syarat untuk menempuh mata kuliah Pengajaran Psikologi dan Bimbingan
DosenPengampu:
Mudaim, M.Si

Disusun Oleh:
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Prodi Bimbingan dan Konseling
Universitas Muhammadiyah Metro
2015
KATA PENGANTAR
Allhamdulillah penulis mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT
yang telah melimpahkan rahmat & hidayahnya sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa penulis mengucapkan terima
kasih kepada Bapak Mudaim, M.si. Selaku Dosen di Universitas
Muhammadiyah Metro yang masih memberikan kepercayaannya kepada penulis dan
tidak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang sudah
memberikan dukungan untuk pembuatan makalah ini.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara
Oleh karena itu maju
mundurnya suatu pendidikan sangat menentukan bagi bangsa dan Negara khususnya
generasi yang akan dating.
Namun demikian,
penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki
sehingga makalah ini dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya,
penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran
dan usul guna penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya penulis
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis kususnya, dan umumnya
bagi seluruh pembaca.
September
2015
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Judul
Kata Pengantar........................................................................................................................................................... i
Daftar Isi......................................................................................................................................................................... ii
Kata Pengantar........................................................................................................................................................... i
Daftar Isi......................................................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
·
Latar Belakang............................................................................................................................................ 1
·
Rumusan Masalah..................................................................................................................................... 2
·
Tujuan.............................................................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
·
Definisi Psikologi....................................................................................................................................... 3
·
Kebutuhan Psikologi............................................................................................................................... 3
·
Kebutuhan yang mempengaruhi psikologi pada BBL....................................................... 6
·
Masalah Psikologi Pada Anak............................................................................................................ 9
·
Masalah-masalah Psikologi pada Anak yang Sering
Terjadi......................................... 10
·
Kebutuhan Bimbingan Psikologi..................................................................................................... 12
BAB III PENUTUP
·
Kesimpulan.................................................................................................................................................... 13
Saran.................................................................................................................................................................
Saran.................................................................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Dalam
pendidikan kita mengenal ada tiga ranah yang menjadi ukuran penilaian dalam
pembelajaran, yaitu kognitif, afektif, psikomotorik. Masing-masing ranah
mempunyai kriteria-kriteria tertentu dalam pengukurannya. Begitu pula dengan
cara pengukurannya, tiap-tiap ranah tentu berbeda.
Pengukuran
pada ranah afektif tidak semudah melakukan pada pengukuran kognitif. Namun itu
bukan berarti ranah tersebut tidak dapat diukur. Ada kriteria-kriteria tertentu
ang menjadi pedoman dalam pengukuran ini. Dalam makalah ini akan dibahas
mengenain apa itu ranah afektif, apa saja tahapannya serta bagaimana cara kita
mengukur ranah tersebut. Dengan makalah ini diharpakan kita dapat lebih
memahami mengenai ranah afektif dan nantinya dapat mengaplikasikannya dalam
dunia pendidikan.
B. Rumusan masalah
1. Apa
pengertian kemampuan afektif ?
2. Bagaimana
jenjang- jenjang dalam kemampuan afektif menurut Taksonomi Bloom ?
3. Aapa saja
kriteria yang dikembangkan dalam ranah afektif dan cara pengukurannya?
BAB II
PEMBAHASAN
Kemampuan afektif yang berkaitan dengan minat dan sikap ini, erat
hubungannya dengan emosi anak didik. Jika kemampuan afektif pada anak tidak
tumbuh atau muncul, maka efeknya secara tidak langsung si anak tidak dapat
menyenangi atau fokus atau merespon dengan baik terhadap mata pelajaran yang
diajarkan atau diberikan. Sehingga kemampuan ini sangat perlu untuk
diperhatikan secara lebih oleh tenaga pendidik maupun orang tua terhadap anak didik.
Kemampuan afektif dibagi kedalam lima jenjang menurut
Taksonomi Bloom (1956), yaitu :
- Receiving atau attending : (menerima atau memeperhatikan),
adalah kepekaan seseorang dalam menerima
rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk
masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Termasuk dalam jenjang ini misalnya
adalah kesadaran dan keinginan untuk menerima stimulus, mengontrol dan
menyelesaikan gejala-gejala atau rangsangan yang datang dari luar. Contoh hasil
belajar ranah afektif receiving adalah peserta didik memperhatikan
gerakan-gerakan sholat yang dilakukan oleh orang muslim.
- Responding (menanggapi)
mengandung
arti "adanya parsitipasi aktif". Jadi kemampuan menanggapi adalah
kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara
aktif dalam fenomena tertentu dalam membuat reaksi terhadapnya salah satu cara.
Jenjang ini lebih tinggi dari pada jenjang receiving. Contoh hasil balajar
ranah afektif responding adalah peserta didik tumbuh hasratnya untuk mempelajarinya
lebih jauh atau mengenali lebih dalam lagi ajaran-ajaran Islam tentang tata
cara melakukan sholat
- Valuing (menilai=menghargai).
Menilai atau
menghargai artinya mem-berikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap
sesuatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan,
dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Valuing adalah merupakan
tingkat afektif yang lebih tinggi lagi dri pada receiving atau responding.
Dalam kaitan dalam proses belajar mengajar, peserta didik disini tidak hanya
mampu menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk
menilai konsep atau fenomena, yaitu baik atau buruk. Bila suatu ajaran yang
telah mampu mereka nilai dan mampu untuk mengatakan "itu adalah
baik", maka ini berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses
penilaian. Nilai itu mulai dicamkan (internalized) dalam dirinya. Dengan
demikian nilai tersebut telah stabil dalam peserta didik. Contoh hasil belajar
afektif jenjang valuing adalah tumbuhnya keinginan yang kuat pada diri peserta
didik untuk melakukan ibadah sholat ketika waktu sholat itu tiba, dimanapun dia
berada.
- Organization (=mengatur atau mengorganisasikan),
artinya
mempertemukan perbedaan nilai sehingga membentuk nilai baru yang universal,
yang membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan
pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya
hubungan satu nilai dengan nilai yang lain. Pemantapan dan perioritas nilai
yang telah dimilikinya. Contoh nilai afektif jenjang organization adalah
peserta didik melaksanakan sholat wajib lima waktu sesuai dengan yang diajarkan
oleh Rasulullah SAW.
- Characterization by evalue or calue complex (=karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai),
yakni keterpaduan semua sistem nilai yang
telah dimiliki oleh seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah
lakunya. Disini proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi
dalam suatu hirarki nilai . nilai itu telah tertanam secara konsisten pada
sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya menjadi sebuah kebiasaan diri. Contoh
daari nialai afektif ini adalah peserta didik menjadi terbiasa melakukan sholat
wajib lima waktu tanpa harus ada perintah dari orang lain.
Ranah
afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena kemampuan yang
dinilai dalam ranah afektif adalah :
- Menerima (memperhatikan), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala, kesadaran, kerelaan, mengarahkan perhatian.
- Merespon, meliputi merespon secara diam-diam, bersedia merespon, merasa puas dalam merespon, mematuhi peraturan.
- Menghargai, meliputi menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen terhadap nilai.
·
Mengorganisasi,
meliputi mengkonseptualisasi nilai, mamahami hubungan abstrak,
mangorganisasi sistem suatu nilai.
Penilaian afektif memiliki tujuan utama yaitu
mengetahui karakter siswa dalam proses pembelajaran. Hasil pembelajaran dapat
dibagi menjadi tiga bagian menurut Chatib (2012), yaitu:
- Penilaian pada saat proses belajar sedang berlangsung. Pemberi nilai dalam kondisi ini dilakukan oleh guru kelas. Output-nya berbentuk laporan perkembangan siswa.
- Penilaian di luar proses belajar di dalam sekolah. pemberi nilai adalah semua guru di sekolah yang berkesempatan memantau sikap siswa. Laporannya berbentuk buku poin, buku pintar, dll.
- Penilaian di luar sekolah atau di rumah. pemberi nilai adalah orang tua. Laporannya berbentuk buku penyembung atau penghubung.
Penilaian afektif pada saat proses belajar
adalah
bagaimana sikap, respons, dan minat siswa terhadap proses belajar. Indikator
penilaian afektif ini jumlahnya bermacam-macam, namun minimal harus memenuhi
persyaratan indikator:
- Sikap siswa terhadap dirinya sendiri selama proses belajar.
Contoh indikatornya adalah kehadiran siswa.
- Sikap siswa dalam hubungan dengan guru selama proses belajar.
Contoh indikatornya adalah perhatian
terhadap guru pada saat proses belajar berlangsung.
- Sikap siswa dalam hungungan dengan teman-temannya selama proses belajar.
Contoh indikatornya adalah sikap
siswa terhadap teman-temannya pada saat proses belajar berlangsung (membuat
keributan, mengajak ngobrol temannya, menjahili temannya, dll).
- Sikap siswa dalam hubungan dengan lingkungannya selama proses belajar.
Contoh indikatornya adalah sikap
siswa terhadap kebersihan kelas.
- Respon siswa terhadap materi pembelajaran.
Contoh indikatornya adalah motivasi dan
partisipasi siswa dalam materi pembelajaran.
Penialaian afektif di luar proses belajar
adalah
penilaian terhadap sikap dan perilaku siswa dipandang dari sikap internal dan
hubungannya dengan lingkungan sekolah yang lain. Umumnya perilaku ini dibagi
menjadi dua, yaitu perilaku baik atau buruk. kumpulan nilai perilaku ini
dibukukan menjadi buku tertentu, misalnya dengan nama Buku Akhlaq, Buku Pandai,
Buku Perilaku, dsb.
Contoh
kasusnya, saat jam istirahat ada dua siswa yang berkelahi, anta A dan B. Guru
yang melihat kejadian tersebut (utamanya guru kelas) harus mencatat dalam buku
afektif atau perilaku milik kedua siswa tersebut, yang dicatat adalah pelaku
dan kejadian yang terjadi. Sebaliknya, jika yang terjadi adalah kejadian yang
baik, maka sang guru juga harus mencatatnya. Siswa pun harus mengetahui bahwa
perilaku mereka dicatat dalam buku afektif tersebut.
Buku tersebut dapat berupa tabel dengan isi kolom
nomor, nama, tanggal, perilaku (baik dan buruk). Buku tersebut untuk setiap
anak. Atau sekolah dapat mengkombinasikan pemberian poin merah umtuk perbuatan
tidak baik dan poin biru untuk perbuatan baik. kemudian, hasil poin biru atau
merah dalam jumlah tertentu akan mendapat apresiasi dan konsekuensi edukasi
bagi siswa bersangkutan.
Penilaian afektif di rumah,
Penilaian afektif di rumah,
biasanya dilakukan oleh orang tua untuk mengisi buku
penyambung yang memuat kebiasaan-kebiasaan baik siswa di rumah, misalnya
perilaku kebiasaan siswa sholat wajib berjamaah, membaca Al-Qur'an, membantu
orang tua, pergi ke masjid, dsb.
BAB III
PENUTUPAN
Kesimpulan
Kemampuan afektif yang berkaitan dengan minat dan sikap ini, erat hubungannya
dengan emosi anak didik. Jika kemampuan afektif pada anak tidak tumbuh atau
muncul, maka efeknya secara tidak langsung si anak tidak dapat menyenangi atau
fokus atau merespon dengan baik terhadap mata pelajaran yang diajarkan atau
diberikan. Sehingga kemampuan ini sangat perlu untuk diperhatikan secara lebih
oleh tenaga pendidik maupun orang tua terhadap anak didik.
Ranah afektif adalah ranah yang
berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti
perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan
tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Ranah afektif menjadi
lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu: Receiving atau attending, Responding, Valuing,dan Organization, Characterization by evalue or
calue complex.
Ada lima tipe karakterstik ang
penting untuk dikembangkan dalam ranah afektif, yakni sikap, minat, konsep
diri, nilai dan moral.
Manuver di
jalan Allah, tidak hanya berperang. Tapi punya pengertian yang luas. Dakwah –dengan
segala bentuknya– adalah bentuk manuver di jalan Allah. Karena itu dalam surat
At-Taubah Allah swt. menyebutkan:
وَمَا كَانَ
الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ
مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا
رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak
sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan
kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat
menjaga dirinya.” (At-Taubah: 122)
No comments:
Post a Comment